Combatpedia – UFC Qatar menjadi panggung yang sangat menarik karena, meskipun kalender akhir tahun dipenuhi duel besar antar nama top, momentum menjelang pergantian musim selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Biasanya, ini adalah periode ketika mata para pengamat mulai beralih dari sekadar menyaksikan perebutan sabuk menuju mencari siapa saja yang berpotensi tampil mencuri perhatian di tahun berikutnya. Karena itu, UFC Qatar menghadirkan rasa penasaran tersendiri, sebab beberapa petarung muda akan mencoba mendobrak batas. Dari sudut pandang saya, ini bukan sekadar fight card biasa; ini adalah awal dari generasi baru yang mendefinisikan ulang dinamika kompetisi UFC pada 2026.
“Baca juga: Islam Makhachev Dominasi Jack Della Maddalena untuk Rebut Gelar di UFC 322“
Luke Riley dan Harapan Baru Inggris di UFC Qatar
Saat UFC Qatar diumumkan, nama Luke Riley segera menjadi pusat perhatian karena ia membawa reputasi besar dari Next Generation MMA, gym yang juga membesarkan Paddy Pimblett. Bahkan, sejak lama Pimblett selalu membicarakan “next wave” dari Liverpool, dan Riley adalah bukti konkret dari pernyataan itu. Rekornya yang sempurna 11 kemenangan profesional ditambah 4 kemenangan amatir menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki pendatang baru. Dengan delapan kemenangan melalui KO/TKO, Riley mengeksekusi gaya bertarung agresif yang disukai penonton. Meski debut selalu penuh risiko, UFC Qatar menjadi panggung ideal untuk menguji apakah hype yang mengelilingi Riley benar-benar sepadan dengan kemampuan yang ia miliki.
Bogdan Grad Sebagai Ujian Awal yang Cukup Berat
Walaupun Riley masuk sebagai prospek besar, UFC Qatar tidak memberikan lawan yang mudah. Ia akan menghadapi Bogdan Grad, petarung yang telah dua kali tampil di Dana White’s Contender Series. Grad dikenal sebagai petarung bermental baja, mampu bertahan di bawah tekanan, dan selalu membawa ancaman baik dalam grappling maupun striking. Selain itu, kemenangan debutnya di Riyadh menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar pelengkap di divisi bulu. Karena itu, pertarungan Riley vs Grad terasa seperti adu kualitas dan mentalitas yang akan menentukan arah karier Riley. Menurut saya, jika Riley mampu tampil taktis dan tetap tenang, ia bisa membuka jalan menuju kesempatan lebih besar di Eropa tahun depan.
Kembalinya Kyoji Horiguchi dan Cerita Lama yang Kembali Terulang
Selain munculnya talenta muda, UFC Qatar juga menghadirkan nostalgia berkat kembalinya Kyoji Horiguchi ke Octagon setelah sembilan tahun. Banyak penggemar lama yang tentu merindukan teknik cepat dan fleksibilitas khas petarung Jepang ini. Sejak meninggalkan UFC, Horiguchi telah memenangi sabuk Bellator, tampil dominan di Rizin, dan mencatatkan kemenangan atas beberapa petarung elite. Kembalinya ia ke UFC Qatar menghadirkan rasa hangat, seolah penonton diingatkan pada era emas flyweight masa lalu. Bagi saya, Horiguchi adalah salah satu petarung paling komplet dalam satu dekade terakhir, dan kehadirannya kembali memperkaya narasi di divisi 125 pound.
Pertarungan Sulit Menanti Horiguchi di UFC Qatar
Di UFC Qatar, Horiguchi akan menghadapi Tagir Ulanbekov, lawan yang dikenal dengan grappling super disiplin ala garis keturunan Abdulmanap Nurmagomedov. Selain membawa rekor impresif, Ulanbekov juga telah mencatat empat kemenangan beruntun di UFC. Karena itu, duel ini layak disebut ujian berat bagi Horiguchi meskipun ia sudah berpengalaman melawan banyak petarung elite di seluruh dunia. Namun, justru perbedaan gaya ini membuat pertarungan lebih menarik. Dari sudut pandang analisis, jika Horiguchi dapat mengontrol jarak dan menghindari permainan clinch panjang, peluangnya untuk kembali bersaing di perebutan gelar sangat terbuka.
“Baca juga: UFC 322 Predictions: Duel Penentu Karier Para Bintang Utama“
Bekzat Almakhan dan Performa Debut yang Membekas di Ingatan
Selain nama besar, UFC Qatar juga mempertemukan publik dengan prospek berbahaya lainnya, yaitu Bekzat Almakhan. Pada debutnya melawan Umar Nurmagomedov, banyak yang mengira Almakhan akan tumbang cepat karena menghadapi salah satu prospek paling ditakuti. Sebaliknya, Almakhan justru membuat kejutan besar dengan mendaratkan pukulan keras yang memaksa Umar mengubah strategi menjadi full wrestling. Walaupun Almakhan kalah angka, performanya menjadi pembuktian bahwa ia bukan petarung kaleng-kaleng. Dan ketika ia kembali di UFC 315, ia membuktikan diri lewat kemenangan KO cepat atas Brad Katona. Menurut saya, Almakhan adalah tipe petarung yang bisa membuat kejutan besar jika aktif bertanding secara konsisten.
Almakhan Menghadapi Aleksandre Topuria yang Sama Ambisius
Sebagai lanjutan perjalanan, Almakhan akan menghadapi Aleksandre Topuria, kakak dari juara dunia lightweight Ilia Topuria. Meski gaya bertarungnya berbeda, Aleksandre membawa mental juara yang kuat dan kemampuan teknis solid. Topuria yang mencatatkan kemenangan penting di Australia menjadi lawan yang tepat untuk menguji seberapa cepat Almakhan bisa naik peringkat. Karena itu, UFC Qatar menjadi momen penting bagi keduanya untuk membuktikan bahwa mereka pantas masuk radar Top 15 bantamweight. Dengan gaya agresif dan tempo cepat, duel ini diprediksi menjadi salah satu pertarungan paling eksplosif dalam kartu pertandingan.
UFC Qatar Menunjukkan Masa Depan Cerah Bagi Tiga Nama Ini
Melalui UFC Qatar, kita melihat tiga petarung Luke Riley, Kyoji Horiguchi, dan Bekzat Almakhan yang berpotensi menjadi cerita besar tahun depan. Setiap pertarungan yang mereka hadapi bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang membangun momentum dan kepercayaan diri. Dari perspektif saya, UFC Qatar menjadi semacam panggung kelulusan bagi mereka yang siap melangkah ke fase karier lebih matang. Dan jika mereka mampu tampil meyakinkan, sangat mungkin ketiganya masuk ke daftar petarung paling menjanjikan di 2026.
