Combatpedia – Rolando “Rolly” Romero kembali menarik perhatian dunia tinju ketika ia mengejar pertarungan melawan legenda hidup Manny Pacquiao. Sejak kabar itu mencuat, publik langsung mempertanyakan logikanya karena Pacquiao tidak lagi aktif dan bahkan tidak masuk daftar 15 besar penantang WBA. Meskipun demikian, Romero tetap bersikeras karena baginya duel tersebut akan menjadi laga “aneh” yang justru sangat menguntungkan secara finansial. Selain itu, ia menyadari bahwa posisinya sebagai juara kelas welter seharusnya membuatnya menghadapi Shakhram Giyasov. Namun, keinginan mengubah arah karier melalui duel besar tampaknya lebih menggoda baginya daripada mengikuti jalur kompetitif yang semestinya.
“Baca juga: Kritik Matt Brown Soal Peluang Paddy Pimblett: “Itu Benar-Benar Tidak Masuk Akal”“
Mengapa Romero Tampak Menghindari Giyasov?
Pertanyaan besar langsung muncul ketika Romero lebih memilih mengejar Pacquiao daripada menghadapi penantang wajibnya. Dari sisi aturan, Giyasov adalah lawan sah yang berada pada urutan teratas peringkat WBA. Namun, dari sisi bisnis, pertarungan tersebut tidak menawarkan gaung besar. Karena itulah Romero lebih tertarik pada duel yang dapat mendatangkan sorotan internasional. Konsekuensinya, publik mulai berspekulasi bahwa ia sesungguhnya ingin menghindari risiko tinggi melawan petinju yang lebih teknis dan lebih berbahaya.
Pacquiao: Nama Besar yang Selalu Mengundang Profit
Di dunia tinju, tidak banyak nama yang tetap menghasilkan uang meski sudah tidak aktif bertarung, dan Pacquiao adalah salah satunya. Oleh sebab itu, Romero melihat peluang besar jika ia berhasil mengamankan satu laga bersamanya. Selain liputan global, sponsor besar akan datang dengan sendirinya. Bahkan, beberapa promotor menilai duel seperti ini hampir selalu sukses secara komersial meskipun sering dianggap tidak masuk akal dari sisi peringkat. Karena itu, Romero terus memaksa agar pengecualian diberikan oleh WBA.
Nasib Giyasov yang Terus Digantung
Di tengah ambisi Romero, posisi Shakhram Giyasov justru berada di wilayah abu-abu. Sebagai penantang wajib, ia seharusnya mendapat kepastian jadwal pertarungan. Akan tetapi, ia terus diminta menunggu tanpa arah yang jelas. Kondisi tersebut berpotensi merugikan kariernya karena momentum seorang petinju bisa hilang jika terlalu lama tidak bertanding. Dari sudut pandang etika olahraga, situasi ini sangat tidak adil. Namun, ia juga tidak dapat berbuat banyak karena keputusan berada di tangan badan dunia.
Peringkat WBA yang Semakin Menyudutkan Romero
Daftar peringkat WBA secara jelas menunjukkan Romero sebagai juara. Posisi di bawahnya diisi oleh nama-nama besar seperti Giyasov, Stanionis, Conor Benn, Ryan Garcia, hingga Jack Catterall. Karena itu, kelas welter dikenal sebagai divisi paling panas saat ini. Ironisnya, gambaran persaingan ketat itu justru membuat Romero tampak seperti petinju yang memilih jalur pintas. Jika ia mengikuti aturan, pertarungan wajib harus didahulukan sebelum duel populer lainnya. Namun ambisinya membuat ia tampak seperti sosok yang ingin menghindari tanggung jawab sebagai juara dunia.
Pernyataan Eddie Hearn yang Memicu Gelombang Reaksi
Pada titik ini, pernyataan Eddie Hearn ikut memperkeruh suasana. Ia menegaskan bahwa tim Romero memang telah mengajukan permintaan pengecualian untuk melawan Pacquiao. Menurut Hearn, permintaan itu tidak pantas dan seharusnya tidak disetujui. Selain itu, ia menegaskan bahwa mandatory fight adalah prinsip dasar yang harus dihormati oleh siapa pun pemegang sabuk juara. Akibatnya, publik semakin yakin bahwa Romero sedang mencoba menghindari pertarungan sejati. Bahkan beberapa analis menyebut langkah tersebut sebagai bukti kurangnya keberanian Romero.
Dilema Antara Prestise dan Keuntungan
Dalam tinju profesional, prestise sering kali berseberangan dengan keuntungan finansial. Romero menghadapi dilema yang sangat klasik. Jika ia memilih Giyasov, kredibilitasnya akan meningkat secara signifikan. Sebaliknya, jika ia mengejar Pacquiao, ia berpeluang memperoleh keuntungan besar sekaligus eksposur global. Karena itu, langkah yang ia ambil pun tergolong sangat berisiko. Banyak pengamat menilai bahwa memenangkan pertarungan wajib justru akan memperkuat posisinya sebagai juara sejati.
Reaksi Publik yang Terbelah
Respons publik pun tidak seragam. Beberapa orang mendukung Romero karena peluang menyaksikan Pacquiao kembali ke ring memang terasa menggoda. Namun sebagian yang lain mengecam karena langkah tersebut dianggap merusak struktur kompetisi. Bahkan muncul opini bahwa Romero sebenarnya kurang percaya diri menghadapi penantang wajib. Perdebatan ini tidak hanya muncul di media, tetapi juga meluas ke komunitas tinju global yang mempertanyakan keberanian Romero.
Apakah Pacquiao Tertarik Bertarung Dengan Romero?
Di tengah kehebohan itu, pertanyaan terbesar adalah apakah Pacquiao berminat kembali naik ring. Sampai saat ini, Pacquiao belum memberikan jawaban jelas. Walaupun ia masih sering berlatih, aktivitas politiknya membuat jadwalnya sulit diprediksi. Kemungkinan duel tetap terbuka, tetapi alasan yang mendorongnya mungkin lebih bersifat komersial daripada keinginan melanjutkan karier tinju profesional.
“Baca juga: Khamzat Chimaev Tanggapi Alex Pereira yang Berpotensi Kejar Gelar UFC Ketiga“
Tekanan Berat Mengarah ke WBA
Kini WBA berada dalam posisi yang cukup rumit. Jika mereka menyetujui pengecualian, kredibilitas peringkat dapat dipertanyakan. Sebaliknya, jika mereka menolak, laga besar yang berpotensi menghasilkan keuntungan besar harus dilepaskan. Beberapa preseden memperlihatkan bahwa WBA pernah memberikan pengecualian serupa. Namun kali ini sorotan publik jauh lebih besar, sehingga keputusan apa pun dapat berpengaruh besar bagi reputasi federasi.
Kemungkinan Dampak Jika Duel Terjadi
Jika pertarungan Romero–Pacquiao benar-benar terjadi, dampaknya bisa luar biasa. Romero akan menghadapi risiko besar karena kekalahan dari Pacquiao yang sudah tidak aktif dapat menghancurkan reputasinya. Namun kemenangan akan memberinya loncatan karier yang dramatis. Sementara itu, Giyasov akan makin tersingkir, pihak promotor akan saling berebut hak siar, dan dunia tinju akan kembali terbelah oleh kontroversi.
Romero dan Persimpangan Besar Kariernya
Pada akhirnya, Romero harus memilih jalur yang menurutnya paling membawa keuntungan. Jika ia ingin membuktikan bahwa dirinya juara sejati, pertarungan melawan Giyasov adalah langkah terbaik. Namun jika ia mencari popularitas cepat dan nilai komersial besar, mengejar Pacquiao adalah pilihan yang paling masuk akal, meski berisiko. Keputusan yang ia ambil dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah kariernya selama bertahun-tahun.
