Combatpedia – Sejak detik pertama wawancara dimulai, emosi Maycee Barber langsung terlihat mengalir tanpa filter. Selain itu, ketika ia memegang mikrofon dan mencoba menjawab pertanyaan, suaranya bergetar seolah seluruh penat yang ia pendam selama 21 bulan akhirnya mencari jalan keluar. Kemudian, ketika air matanya mulai jatuh, McKenzie Pavacich menenangkannya dan mengingatkan agar ia bernapas. Meskipun begitu, Barber tetap tersenyum sambil bergurau bahwa mungkin selama ini ia seperti menahan napas. Oleh karena itu, suasana wawancara berubah menjadi ruang terapi kecil yang membuat semua perasaannya keluar dengan jujur.
“Baca juga: Rose Namajunas Dapat Lawan Baru Usai Alexa Grasso Mundur dari UFC 324“
Perjalanan Panjang Setelah Infeksi Serius yang Menghentikan Kariernya
Setelah kemenangan penting atas Katlyn Cerminara di UFC 299, Maycee Barber sebenarnya berada dalam puncak momentum. Namun, segera setelah laga itu berakhir, ia mengalami infeksi berat yang membuatnya harus dirawat selama beberapa hari. Selain itu, ketika infeksinya membaik dan ia mulai membuka kamp latihan untuk menghadapi Rose Namajunas, gejala lama kembali mengganggu. Akibatnya, ia terpaksa mundur dari pertarungan yang seharusnya menjadi langkah besar dalam kariernya. Di sisi lain, ia tetap mencoba memulihkan diri sambil terus berharap kondisi tubuhnya memberi kesempatan untuk kembali. Pada akhirnya, harapan itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya terus bertahan di masa sulit.

Menyadari Bahwa Segala Sesuatu Bisa Hilang Dalam Sekejap
Selama masa pemulihan yang panjang, Maycee Barber menyadari betapa rapuhnya karier seorang atlet. Selain itu, ia mengaku bahwa pelajaran terbesar dari cobaan ini adalah kesadaran bahwa apa pun bisa hilang kapan saja. Kemudian, ketika ia ditanya apa yang paling menakutkan, ia menjelaskan bahwa rasa takut terbesar bukanlah sakit, melainkan kehilangan kesempatan untuk bertarung. Walaupun demikian, ia berusaha menjaga keyakinan bahwa ia akan kembali berdiri di Octagon. Oleh sebab itu, setiap hari ia melatih kesabarannya sekaligus menata ulang mentalnya agar tidak tenggelam dalam rasa frustrasi.
Dukungan Orang Terdekat Menjadi Pondasi yang Menyelamatkan
Di antara semua tantangan, dukungan orang-orang terdekatlah yang memberi tenaga baru bagi Maycee Barber. Selain itu, Oscar Herrera, Guilherme Faria, dan sahabat latihannya Tina “Black” Machado selalu berada di belakangnya. Kemudian, Barber mengakui bahwa justru mereka yang paling banyak berkorban, karena ia sering meluapkan kekesalan selama masa pemulihan. Meskipun begitu, mereka tetap bertahan dan memberi ruang baginya untuk memproses emosinya. Oleh karena itu, Barber merasa bahwa kesembuhannya bukan hanya hasil ketahanan pribadi, tetapi juga ketulusan orang-orang yang enggan meninggalkannya saat ia rapuh.
Rasa Marah yang Ternyata Berasal dari Kerinduan Bertarung
Ketika Barber berbicara lebih dalam tentang emosinya, ia mengungkapkan bahwa kemarahannya bukan muncul karena frustrasi semata. Selain itu, ia mengaku bahwa rasa marah itu sebenarnya lahir karena ia sangat merindukan sensasi bertarung. Kemudian, ia menjelaskan bahwa semua energi yang terpendam berasal dari kerinduan terhadap hal yang paling ia cintai. Walaupun demikian, ia percaya bahwa satu kemenangan saja sudah cukup untuk meredakan beban mental yang ia bawa selama ini. Terlebih lagi, ia merasa bahwa UFC 323 akan menjadi jalan keluar dari gelapnya 21 bulan penuh ketidakpastian.
“Baca juga: Payton Talbott Ungkap Nasihat “Pengubah Karier” dari Henry Cejudo Jelang UFC 323“
Fokus Pada Diri Sendiri dan Tidak Tenggelam dalam Tekanan Eksternal
Saat pembicaraan beralih ke lawannya, Karine Silva, Barber hanya tersenyum lebar. Selain itu, ia mengatakan bahwa sepanjang kamp latihan, ia tidak terlalu fokus pada Silva. Kemudian, ia menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah memulihkan kualitas dirinya sendiri—baik secara fisik maupun mental. Di sisi lain, pelatih dan timnya tetap menganalisis pola bertarung Silva agar Barber siap menghadapi apa pun. Meskipun begitu, ia percaya bahwa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri sudah cukup untuk mendapatkan kemenangan. Oleh sebab itu, ia memilih untuk menyiapkan diri daripada menghabiskan energi memikirkan lawan.
Semangatnya Kembali Berkobar Menjelang Hari Pertarungan
Ketika membicarakan hari pertarungan, mata Barber langsung memancarkan antusiasme yang sulit ditutupi. Selain itu, ia bahkan memotong pertanyaan pewawancara karena rasa tidak sabarnya untuk membayangkan kemenangan. Kemudian, ia menjelaskan bahwa bukan hanya kemenangan yang ia cari, tetapi juga rasa lega untuk akhirnya melakukan apa yang ia cintai. Meskipun begitu, ia tetap menunjukkan sikap realistis bahwa tekanan besar masih menantinya di dalam Octagon. Oleh karena itu, ia memilih untuk fokus pada momen dan membenamkan diri dalam semangat yang mulai pulih.
Tekad Besar untuk Mengambil Alih Masa Depan Divisi Flyweight
Pada akhirnya, ketika ditanya tentang Masa Depan Divisi Flyweight**
Pada akhirnya, ketika ditanya tentang masa depannya, Barber menjawab dengan sangat tegas. Selain itu, ia menyatakan bahwa masa depan kariernya hanya punya satu tujuan: sabuk juara. Kemudian, ia menambahkan bahwa perjalanan panjang yang penuh cobaan justru memperkuat keyakinannya. Walaupun demikian, ia sadar bahwa pencapaian itu membutuhkan kerja keras dan konsistensi. Oleh sebab itu, ia bertekad menjadikan UFC 323 sebagai langkah pertama menuju puncak flyweight. Pada akhirnya, ia ingin membuktikan bahwa badai 21 bulan tidak memadamkan “The Future”—justru menyalakan api baru di dalam dirinya.
