Combatpedia – Lomachenko tampaknya belum benar-benar selesai dengan dunia tinju. Setelah sempat meninggalkan ring, petinju Ukraina itu kembali membawa ambisi besar yang belum berhasil ia tuntaskan. Targetnya bukan sekadar menjalani satu pertarungan perpisahan. Vasiliy Lomachenko masih ingin mengejar status juara undisputed sebelum usia membuat kesempatan tersebut semakin sempit. Nama O’Shaquie Foster pun muncul sebagai salah satu target paling menarik. Foster baru saja memperkuat posisinya di kelas super featherweight 130 pon setelah menundukkan Emanuel Navarrete. Namun, duel Lomachenko melawan Foster belum resmi diumumkan. Bahkan, Charly Suarez juga disebut sebagai kandidat lawan untuk menguji kondisi Lomachenko setelah periode panjang tanpa pertandingan. Situasi ini membuat comeback sang mantan juara dunia terasa menarik. Ia bukan hanya kembali ke ring, tetapi juga mempertaruhkan reputasi besar demi mengejar satu pencapaian yang selama ini belum masuk ke koleksinya.
Baca Juga: Arman Tsarukyan Dominasi Dillon Danis, Aksi Seusai Laga Nyaris Picu Keributan
Lomachenko Kembali karena Satu Mimpi Belum Tercapai
Keputusan Lomachenko kembali bertinju memiliki alasan yang sangat personal. Pada usia 38 tahun, ia menyadari kesempatan untuk menjadi undisputed champion tidak akan terbuka selamanya. Lomachenko mengatakan bahwa gelar tersebut merupakan salah satu tujuan utamanya sejak memasuki tinju profesional. Karena itu, keinginan kembali bukan sekadar mencari pertarungan besar. Ada pekerjaan yang menurutnya belum selesai. Situasinya menarik karena Lomachenko sebenarnya sudah memiliki karier yang sangat sukses. Ia pernah menjadi juara dunia di tiga kelas berbeda dan meraih dua medali emas Olimpiade sebelum memasuki ring profesional. Namun, status undisputed tetap belum pernah ia miliki. Pada 2023, kesempatan besar datang ketika menghadapi Devin Haney di kelas lightweight. Lomachenko kalah melalui keputusan angka. Kini, beberapa tahun setelah malam tersebut, ia mencoba membuka satu jalan terakhir. Ambisinya sederhana untuk dijelaskan, tetapi sangat sulit diwujudkan: menguasai seluruh sabuk utama dalam satu divisi.
O’Shaquie Foster Kini Menguasai Sebagian Besar Sabuk 130 Pon
Nama O’Shaquie Foster menjadi semakin penting setelah kemenangan besarnya atas Emanuel Navarrete. Foster tampil disiplin dan mampu menjatuhkan Navarrete dua kali pada ronde terakhir. Ia kemudian menang melalui keputusan mutlak. Hasil tersebut membuat Foster membawa pulang gelar The Ring serta menambah sabuk IBF dan WBO ke gelar WBC yang sebelumnya sudah dimilikinya. Dengan posisi tersebut, Foster menjadi pusat perhatian kelas 130 pon. Tidak mengherankan jika Lomachenko melihatnya sebagai calon lawan besar. Duel mereka juga menawarkan pertarungan gaya yang menarik. Foster dikenal memiliki jab, pergerakan, pertahanan, dan kemampuan counter yang solid. Sementara itu, Lomachenko membangun reputasinya melalui footwork, perubahan sudut, serta kombinasi pukulan cepat. Namun, status pertarungan tetap harus dibedakan dari rumor. Sampai sekarang, belum ada kontrak resmi yang memastikan keduanya akan bertemu. Foster sendiri masih memiliki beberapa jalur besar yang dapat ditempuh sebelum duel tersebut menjadi kenyataan.
Charly Suarez Bisa Menjadi Ujian Sebelum Foster
Perkembangan terbaru membuat cerita comeback Lomachenko semakin menarik. Charly Suarez muncul sebagai kandidat lawan sebelum Lomachenko mengejar Foster. Petinju Ukraina itu menyebut pertandingan melawan Suarez dapat menjadi pertarungan pertamanya setelah masa istirahat panjang. Langkah tersebut masuk akal jika melihat situasinya. Lomachenko terakhir bertanding pada Mei 2024. Saat itu, ia menghentikan George Kambosos Jr. pada ronde ke-11 dan merebut gelar IBF lightweight. Artinya, periode tanpa pertandingan kompetitif menjadi salah satu pertanyaan besar menjelang comeback. Melawan Suarez dapat memberikan gambaran mengenai kondisi refleks, stamina, kecepatan, dan kemampuan Lomachenko beradaptasi kembali dengan tekanan pertandingan. Namun, Suarez jelas bukan lawan yang bisa dianggap sekadar pemanasan. Karena itu, pertarungan tersebut dapat menjadi ujian serius. Jika Lomachenko tampil meyakinkan, pembicaraan mengenai Foster akan semakin kuat. Sebaliknya, performa yang menurun dapat mengubah seluruh rencana menuju perebutan gelar.
Turun ke Kelas 130 Pon Membawa Tantangan Tersendiri
Ada detail lain yang membuat comeback ini berbeda. Lomachenko berencana kembali bertarung di kelas super featherweight atau 130 pon. Ia sudah sangat lama tidak tampil di divisi tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir kariernya, Lomachenko lebih dikenal sebagai petinju lightweight 135 pon. Perbedaan lima pon mungkin terlihat kecil bagi penonton. Namun, dalam olahraga tinju profesional, proses menurunkan berat badan dapat memengaruhi energi, hidrasi, dan pemulihan. Faktor usia juga membuat proses tersebut semakin menarik untuk diperhatikan. Meski demikian, Lomachenko pernah mencapai kesuksesan besar di kelas 130 pon. Jadi, secara teknis, wilayah tersebut bukan sesuatu yang asing baginya. Pertanyaannya adalah apakah tubuhnya masih mampu beradaptasi seperti dahulu. Karena itu, laga comeback akan memberikan lebih banyak jawaban daripada sekadar hasil menang atau kalah. Cara Lomachenko bergerak, mempertahankan tempo, dan menyelesaikan 12 ronde dapat menjadi indikator penting sebelum menghadapi juara seperti Foster.
Usia Menjadi Lawan yang Tidak Bisa Dihindari
Keahlian teknis dapat bertahan lama, tetapi waktu tetap menjadi tantangan bagi setiap atlet. Lomachenko berusia 38 tahun dan akan menginjak 39 pada Februari 2027. Pada usia tersebut, pemulihan dan kemampuan mempertahankan kecepatan dapat berbeda dibandingkan masa puncak. Hal ini menjadi penting karena gaya Lomachenko sangat bergantung pada pergerakan kaki, refleks, koordinasi, serta kemampuan membaca celah dengan cepat. Ia sering membuat lawan kehilangan posisi melalui perubahan sudut yang konstan. Namun, gaya seperti itu membutuhkan kondisi fisik yang sangat baik. Di sisi lain, pengalaman panjang bisa menjadi keuntungan. Lomachenko sudah menghadapi berbagai tipe lawan dan memahami cara menyesuaikan strategi di tengah pertarungan. Jadi, pertanyaan mengenai comeback bukan hanya apakah ia masih cepat. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah pengalaman dapat menutup penurunan fisik yang mungkin muncul. Jika jawabannya iya, petinju Ukraina tersebut masih bisa menjadi ancaman serius di kelas 130 pon.
Foster Juga Memiliki Jalan Menuju Undisputed
Menariknya, Lomachenko bukan satu-satunya petinju yang mengejar status undisputed. Foster sendiri berada sangat dekat dengan pencapaian tersebut. Setelah kemenangan atas Navarrete, ia menguasai WBC, IBF, dan WBO serta gelar The Ring. Satu sabuk utama yang belum berada dalam genggamannya adalah WBA. Anthony Cacace saat ini memegang gelar tersebut dan dijadwalkan menghadapi Nick Ball pada Desember 2026. Karena itu, pemenang pertandingan tersebut berpotensi menjadi lawan penting bagi Foster. Jika penyatuan gelar terjadi, peta kelas 130 pon dapat berubah drastis. Lomachenko bisa saja masuk ke divisi ketika seorang juara sudah menguasai seluruh sabuk utama. Skenario tersebut tentu membuat pertarungan semakin bernilai. Namun, banyak hal harus terjadi lebih dahulu. Foster mempunyai kewajiban dan pilihan lawan sendiri, sementara Lomachenko harus membuktikan kondisi fisiknya. Jadi, duel impian ini masih memiliki beberapa kepingan yang harus tersusun sebelum benar-benar dapat diwujudkan.
Baca Juga: Manny Pacquiao Berpeluang Hadapi Joe Cordina, Kontrak Belum Diteken
Duel Foster Bisa Menjadi Pertarungan Teknik Tingkat Tinggi
Jika akhirnya terjadi, pertandingan Lomachenko melawan Foster berpotensi menawarkan duel teknis yang sangat menarik. Lomachenko dikenal mampu menyerang dari sudut yang sulit diprediksi. Footwork-nya membuat lawan sering harus mengatur ulang posisi sebelum melepaskan pukulan. Foster memiliki pendekatan berbeda. Ia nyaman menggunakan jab, menjaga jarak, bergerak, lalu menghukum kesalahan lawan melalui counter. Pertarungan seperti ini kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pukulan. Penguasaan jarak, tempo, dan keputusan kecil setiap ronde bisa menjadi faktor utama. Foster juga memiliki keuntungan usia serta aktivitas pertandingan yang lebih baik. Sebaliknya, Lomachenko membawa pengalaman dari berbagai pertarungan besar. Menurut saya, justru perbedaan tersebut yang membuat duel ini memiliki daya tarik. Penonton tidak hanya menunggu siapa yang menjatuhkan lawan. Mereka juga dapat melihat duel strategi antara petinju yang sama-sama terbiasa membaca permainan. Jika berlangsung, pertandingan tersebut berpotensi menjadi salah satu laga paling menarik di divisi 130 pon.
Rekor Lomachenko Menunjukkan Besarnya Pengalaman yang Dibawa
Karier profesional Lomachenko terbilang unik. Rekornya berada di angka 18 kemenangan dan tiga kekalahan, dengan 12 kemenangan melalui KO. Jumlah pertandingan profesionalnya memang tidak sebanyak banyak juara lain. Namun, kualitas lawan yang dihadapi sejak awal karier membuat rekornya berbeda. Lomachenko bahkan merebut gelar dunia pertamanya pada pertandingan profesional ketiga. Sebelum memasuki tinju profesional, ia juga membangun reputasi luar biasa di level amatir dan meraih dua emas Olimpiade. Tiga kekalahan profesionalnya datang melalui keputusan angka dalam pertandingan perebutan gelar. Salah satunya terjadi ketika ia menghadapi Devin Haney untuk status undisputed pada 2023. Setahun kemudian, Lomachenko bangkit dan menghentikan George Kambosos Jr. untuk menjadi juara IBF lightweight. Riwayat tersebut menjelaskan mengapa comeback-nya tetap mendapat perhatian besar. Ia mungkin tidak lagi berada di usia puncak. Namun, pengalaman bertanding pada level tertinggi membuat namanya sulit dikesampingkan begitu saja.
Misi Terakhir Bisa Menentukan Penutup Karier Lomachenko
Pada akhirnya, comeback Lomachenko membawa cerita yang lebih besar daripada sekadar mencari lawan berikutnya. Ia kembali karena merasa masih memiliki satu target yang belum tercapai. Namun, jalannya menuju undisputed tidak sederhana. Charly Suarez dapat menjadi ujian pertama, sementara Foster berdiri sebagai salah satu target terbesar di depan. Di saat yang sama, Foster juga memiliki ambisi menyatukan seluruh gelar kelas 130 pon. Situasi tersebut membuat beberapa bulan mendatang menjadi sangat menentukan. Jika Lomachenko kembali dengan performa kuat, permintaan untuk mempertemukannya dengan Foster kemungkinan semakin besar. Namun, jika tubuhnya tidak lagi mampu mengikuti kecepatan pikirannya, comeback tersebut dapat menjadi perjalanan singkat. Itulah risiko yang membuat ceritanya menarik. Lomachenko tidak kembali ketika semuanya mudah. Ia kembali ketika waktu justru menjadi lawan terbesar. Jika misi terakhir ini berhasil, status undisputed akan menjadi penutup yang luar biasa bagi salah satu petinju paling teknis pada generasinya.
